Untuk membantu teman agar ulasan ini bisa tersebar luas, maka di blog saya ini akan saya ulas kembali, agar para sahabat tau seperti apa keegoisan kita selama ini, semoga setelah membaca kisah ini, kita bsa sadar, seberapa besar cinta dan sayang dari para istri2 kita.
Ini pelajaran bagi para pasangan suami istri
yang masih saja mengedepankan nafsu amarah dan emosi pada setiap
persoalan rumah tangga yang dihadapi.
Bila mau jujur ..sebenarnya aku masih sangat
mencintainya, perempuan yang dulu pernah mengucap janji setia di depan
altar pernikahan denganku. Sebut saja dia Jasmine. Namun nasi sudah
menjadi bubur. Di atas rasa cintanya yang masih kuyakini tetap berpijar
di hatinya, Jasmine rupanya terlanjur sakit hati, marah, dan terus
berusaha membuang setiap serpihan kenangan yang sudah menjadi abu akibat
terbakar rasa cemburu butaku di masa lalu !!
Apalagi setelah
aku menikahi Atika (nama samaran), perempuan yang sedari semula aku
perkenalkan kepada Jasmine sebagai sahabat dekatku. Perasaan benci yang
seakan-akan telah membantu itu siap terlempar ke arahku sewaktu-waktu.
Seolah-olah dia ingin sekali menunjukkan siapa sipengkhianat yang
sebenarnya ... Akukah itu?? Entahlah, mungkin iya ..
Yang
jelas, saat itu aku memang benar-benar terbakar api cemburu. Setelah
beberapa kali memergoki sms mesra di hape Jasmine dari seseorang yang
bernama Edo (sebut saja begitu), aku juga harus menyaksikan seorang pria
perlente yang sedang berjalan keluar beriringan dengan istriku dari
kantornya, siang itu. Aku tak tahu, mau kemana mereka. Karena sebelum
masuk mobil warna silver yang rupanya milik pria itu, aku sudah
menghadangnya lebih dulu.
Kutarik tangan istriku, kupaksa dia
pulang denganku. Aku tak perduli dengan kilat mata bertanya dari
orang-orang yang berada di sana. Bahkan serta merta aku berteriak, bahwa
aku suami Jasmine kepada lelaki yang sepertinya mencoba menjelaskan
sesuatu kepadaku. Aku tidak peduli !!!
Sesampai di rumah,
kutampar Jasmine. Aku tak ingin mendengar kata-kata apapun darinya.
Termasuk ribuan kalimat yang mengatakan bila aku salah paham. Aku tak
peduli. Sumpah serapah, teriakan, amarah yang selama hari kupendam,
kutumpahkan semua. Melihat aku yang bak 'kesetanan', Jasmine akhirnya
terdiam dan hanya menangis. Karena semakin dia bicara, semakin aku akan
memberondongnya dengan kata-kata sinis dan makian. Entah setan mana yang
merasukiku. Hatiku begitu terbakar ...
Bahkan, tanpa sadar,
aku mengatakan akan menceraikan dia dan menyuruhnya memilih pria itu!!!
Duh ..apa yang telah aku lakukan?? Astaghfirullah ..apa yang telah
kukatakan?? Sejenak, aku sendiri merasa kaget dengan kata-kata kasar
dari mulutku. Tapi ego laki-lakiku, seakan-akan berupaya untuk tidak
kelihatan bersalah atas sikapku itu. Jasmine sendiri kulihat tertegun
dengan kalimatku. Namun, aku sendiri tidak menduga bila akhirnya dia
akan mengatakan itu. Dia menantangku untuk menceraikan dia secara hukum
dan menegaskan bahwa mulai hari itu, dia sudah bukan lagi istrinya.
Karena aku (meski tanpa sadar) telah menalak dia !!
Aku
tercekat. Namun, sekali lagi, api yang terlanjur membakar emosiku
semakin berkobar oleh pernyataan itu. "Semakin aku tahu, memang itu yang
kamu cari. Dengan begitu kau akan bisa bebas berhubungan dengan lelaki
itu !!!" tuduhku membabi buta.
"Terserah, apa yang kamu
katakan, aku tidak peduli. Aku sudah bukan istrimu lagi. Kelak kamu akan
menyadari dan menyesal dengan tindakanmu hari ini. Kamu akan menyesal
karena kamu telah melakukan kesalahan besar dengan fitnahan yang tidak
manusiawi ini !!!" teriak Jasmine histeris.
Itulah yang kuingat
saat-saat terakhir kebersamaanku dengan Jasmine sebagai sepasang suami
istri. Cemburu itu benar-benar telah menelan semuanya ..kasih sayang,
cinta, kesetiaan, indahnya hari-hari kami selama lima tahun menjalani
bahtera rumah tangga dan dikaruniai seorang anak laki-laki kecil, sebut
saja namanya Happy. Dan akhirnya harus aku akui semua kebenaran yang
dikatakan Jasmine setelah dia benar-benar pergi dari kehidupanku.
Setelah dia benar-benar meninggalkan rumah yang kami bangun dan tata
bersama untuk kembali ke kota kelahirannya. Setelah dia benar-benar
telah menukar rasa kasih sayang, cinta dan kesetiaannya dengan
kebencian, sakit hati yang mendalam kepadaku ..
Bahkan mungkin
atas dasar kebenciannya pula kepadaku, dia tidak mengatakan kepadaku
kalau saat itu dia lagi hamil. Inilah yang paling membuatku merasa
bersalah, di tambah lagi membiarkan dia menjadi single parent bagi putri
keduaku yang lahir enam bulan kemudian setelah perceraiannya denganku
!!
Meski aku cemburu dengan pria lain, tapi kata hati dan
keyakinanku mengakui kalau putri kecil itu anakku, anak kami. Apalagi
setelah dia lahir, satu kali aku sempat berkunjung ke rumah Jasmine
dengan dalih ingin bertemu Happy, dan aku melihat begitu banyak
kemiripan fisik putri kecil itu denganku. Matanya, hidungnya, semuanya
seperti melihat sendiri sosok kecilku dulu. Tapi tiap kali pula Jasmine
mengatakan bila itu adalah 'putri haram' nya dengan pria lain. Bahkan
dia melarangku untuk menyentuh balita cantik yang dia beri nama
selayaknya nama Angel' (bukan nama sebenarnya).. Duh ..
Benarkah dia 'putri haram' Jasmine dengan pria itu ..?? Tapi mengapa
hingga hari inipun, Jasmine tidak pernah lagi terlihat dengan pria lain,
termasuk pria yang kucemburui itu? Aku tak ingin bertanya. Karena
pertanyaan apapun tentang masalalu yang mengingatkan dia pada masa
pertengkaran hebat kami itu, akan membuatnya diam membisu. Jasmine
bahkan hanya tersenyum sinis sewaktu aku ungkapkan penyesalanku ..
Aku tahu diri. Apalagi, hanya selang beberapa bulan setelah perceraian
itu, bukan Jasmine yang menikah dengan pia itu, tapi ternyata malah aku
yang menikahi Atika, perempuan yang selama ini aku kenalkan kepada
Jasmine sebagai sahabat dekatku di kantor. Ya, awalnya, kami memang
sahabat dekat, Atika yang masih single di usianya yang sudah kepala tiga
sering curhat padaku. Curhat yang mengundang simpati kelakianku,
apalagi makin lama aku merasakan bila dia tertarik bahkan jatuh cinta
padaku. Entah dasar apa, mungkin karena masih ada sisa amarah, keinginan
'membalas dendam' atas perlakuan jasmine ... atau mungkin untuk
memenuhi hasrat lelakiku setelah sekian lama tak tersentuh perempuan
..aku nekad menikahi Atika.
Tapi ternyata, aku tak bisa menipu
diri sendiri. Aku ternyata masih mencintai Jasmine. Semakin hari,
bukannya semakin hilang, malah semakin menjadi. Apalagi bila mengingat
sikapku yang tidak adil, yang tidak memberikan kesempatan sama sekali
kepada Jasmine untuk menjelaskan masalahnya saat itu. Siapa tahu,
Jasmine memang benar .. Entahlah, karena setelah resmi bercerai, tidak
pernah ada kontak lagi ..
Aku baru mengetahui keadaan
Jasmine, justru setelah menikah dengan Atika. Rasa rindu dan penasaran
yang tidak bisa kubendung, baik kepada Jasmine maupun Happy, membuatku
nekad mengunjungi Jasmine di rumah orangtuanya di kota S yang bisa
kutempuh hanya dengan beberapa jam perjalanan saja. Aku tidak peduli.
Kalaupun nantinya suami Jasmine yang baru akan mengusir atau bahkan
mengajak duel denganku, aku tak peduli !!!
Sesampai di halaman
rumah mantan mertuaku itu, kebetulan keadaan sedang sepi. Rupanya
orangtua Jasmine sedang tidak berada di rumah. Di situlah aku melihat
bayi kecil itu ..seorang bayi perempuan yang tengah lelap di gendongan
Jasmine yang hari itu kelihatan jauh lebih cantik dan segar.
Hatiku bergemuruh, bukan karena cemburu atau melihat orang lain di dalam
sosok kecil itu. Aku seperti sedang bercermin dan mendapatkan bayangan
wajah kecilku di situ. "Jasmine, itu anakku?" tanyaku. Jasmine nampak
terkejut dan tidak menduga kedatanganku. Buru-buru dia berupaya
menjauhkan bayi kecil itu dari jangkauanku dan meletakkannya di babby
box. "Bukan. Itu anak haramku. Buat apa kamu ke sini?" tanyanya sinis.
Sungguh, aku tak bisa menahan perasaanku. Aku yakin, bahkan teramat
yakin kalau itu anakku.Entah apa yang kufikirkan dan tengah berkecamuk
di dadaku .. tiba-tiba aku ingin sekali menenggelamkan wajah cantik itu
di dadaku, seperti waktu-waktu dulu. Aku tak bisa menguasai diri, serta
merta kupeluk perempuan di depanku itu. Anehnya, dia hanya meronta
sejenak, lalu membiarkan saja bibirku mengecup pipinya juga keningnya ..
sedetik kemudia mendorongku hingga hampir terjatuh. "Pergi, pulanglah
.." katanya sembari membenahi rambutnyanya. Wajahnya nampak memerah malu
..atau marah?
Aku sendiri tak menyangka dengan kejadian itu
dan buru-buru minta maaf. Jasmine tak mau lagi melihatku. Berulangkali
dia mengusirku. "Aku sudah bukan istrimu. Aku bukan istri siapa-siapa.
Aku juga tidak butuh siapa-siapa. Angel juga tidak butuh ayahnya di
pernikahannya kelak," katanya sembari menyuruhku segera keluar dari
rumah itu.
Terus terang aku kaget dengan semua pengakuannya.
Tapi aku berusaha mengerti. Aku merasa menjadi laki-laki yang telah
gagal. Aku begitu limbung .. Aku yakin betul, Angel adalah anakku .. Dan
satu hal yang aku tahu, meski tanpa harus ada penjelasan apapun, aku
tahu bahwa Jasmine memiliki banyak kebenaran yang sudah tidak ingin lagi
dia sampaikan kepadaku. Karena semua memang sudah terlambat !!!
Supaya tidak mengundang keributan, akupun terpaksa pulang. Tanpa
pamitan karena Jasmine telah lebih dulu menutup pintu sesaat setelah aku
keluar dari rumah. Tanpa sempat bertanya tentang kondisi Happy yang
sudah setahun lebih kuabaikan ... tanpa tahu dimana dan sedang apa dia
ketika aku datang .. Aku benar-benar galau, khawatir dan cemas ..
Dan dalam perjalanan pulang, fikiranku pun masih pula melayang kepada
Atika yang mungkin tengah gundah menantiku di rumah. Apa yang harus
kukatakan padanya .. apakah aku akan terus menyakitinya dengan
mengungkapkan kejujuran atas perasaanku yang masih begitu mendalam
kepada mantan istriku itu? Meski aku tahu .. dia akan selalu menerima
dan menerima. Begitu mengerti dengan keadaan psikisku .. seperti janji
yang dia ungkapkan saat mengungkapkan perasaan cintanya dan mau menjadi
istriku sesaat setelah perceraianku dengan Jasmine saat itu ... Anganku,
perasaanku semakin kacau karena sehari sebelum keberangkatanku ke rumah
Jasmine, Atika mengatakan sudah telat datang bulan selama lima minggu
....
semoga kisah ini bermanfaat..........buat yang merasa pernah mengalami hal seperti ini, cobalah pahami perasaan mantan istri anda......
menyentuh sekali om....
BalasHapusbukan kisah pribadi kan ini...
hehehehe....